Perusahaan Tekstil Terbesar Di Indonesia Mengalami Guncangan

Perusahaan Tekstil Terbesar Di Indonesia Mengalami Guncangan – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank dan Himpunan Bank Negara (Himbara) masih mencari kesepakatan terbaik untuk Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Duniatex Group.

“Kami dengan Himbara sedang berdiskusi karena ada aspek-aspek yang sifatnya keberlangsungan ekonomi supply chain yang bergantung pada industri ini,” ujar Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly. www.mustangcontracting.com

Ia menambahkan pihaknya berkomitmen untuk mencari skema penyelesaian terbaik bagi produsen tekstil terbesar di Indonesia itu agar tidak berimbas pada industri. Di saat yang sama, lembaganya tetap menjunjung prinsip tata kelola perusahaan yang baik. bet88

Duniatex Group

Perusahaan Tekstil Terbesar Di Indonesia Mengalami Guncangan

Perusahaan yang dikonsolidasikan Grup Duniatex termasuk PT Delta Dunia Tekstil (DDT) dan PT Delta Merlin Sandang Tekstil (DMST) yang sama-sama didirikan pada 2006, berdasarkan profil perusahaan (company profile) Duniatex.

DDT dan DMST bersama dengan PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST) yang didirikan pada 2010 sama-sama bergerak di bidang pemintalan (spinning) atau proses membuat benang dan serat dari kapas atau bahan lain seperti bahan sintetis.

Lini bisnis lain dari Duniatex adalah bisnis pewarnaan (dyeing) dan bisnis hilir produk akhir (finishing) yang dikelola oleh PT Damaitex Ltd yang diambilalih pada 1992 dan PT Dunia Setia Sandang Asli (DSSA).  Satu perusahaan yang disebut milik Duniatex tetapi tidak dikonsolidasikan di laporan keuangan kelompok usaha tersebut adalah PT Dunia Sandang Abadi yang didirikan pada 1998.

Duniatex sendiri didirikan dengan nama CV Duniatex sejak 1974 di Surakarta (Solo). Pada awalnya, perusahaan bergerak dalam bisnis pencelupan, tekstil dan finishing dengan total 130 karyawan.  Pada 1988, Duniatex Industri Tekstil mengakuisisi PT Wijayatex, sebuah perusahaan tekstil tenun. Bersama PT Wijayatex, Duniatex Industri Tekstil membentuk PT Duniatex, yang nanti menjadi induk usaha dari Duniatex Grup.

Pelanggaran Hak Cipta

Jau Tau Kwan tak bisa menahan kegembiraannya setelah masa penahanannya di Rutan Kelas I Solo berakhir. Direktur PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT) ini tiba-tiba nyebur ke kolam renang dengan tetap memakai baju dan celana panjang.  “Saya tidak merencanakan sebelumnya. Nyebur ke kolam renang sebagai upaya untuk membuang sial. Semoga saja saya dibebaskan dari segala tuntutan,” katanya, dilansir Solopos pada 14 Februari 2012.

Jau Tau Kwan menghuni sel sejak Oktober 2011. Ia menjadi terdakwa kasus dugaan pelanggaran hak cipta kain grey rayon kode benang kuning, di mana hak ciptanya dimiliki PT Sri Rejeki Isman Tbk. Meski sudah keluar dari sel, kasus tersebut tetap berjalan. Pada 22 Maret 2012, Jau Tau Kwan diputus bersalah oleh Pengadilan Negeri Karanganyar. Ia dijatuhi hukuman penjara selama 1 tahun, dan denda Rp1 miliar.

Tak terima dengan keputusan itu, Jau Tau Kwan mengajukan permohonan kasasi kepada Mahkamah Agung (MA). Pada 14 Agustus 2012, MA memutuskan membatalkan putusan dari PN Karanganyar tersebut.

Gagal bayar utang

Selang tujuh tahun, DMDT kembali diuji. Kali ini, perusahaan di bawah bendera Duniatex Grup ini terancam gagal bayar surat utang lantaran sedang menghadapi persoalan likuiditas yang signifikan. Bloomberg melaporkan, persoalan ini bermula ketika DMDT menerbitkan obligasi dalam bentuk dolar AS sebesar 300 juta USD pada Maret 2019. Surat utang global bertenor lima tahun itu memiliki kupon sebesar 8,62 persen.

Surat utang DMDT awalnya disambut positif oleh investor global. Bahkan, permintaan untuk obligasi tersebut dikabarkan mencapai 1 miliar dolar AS atau sekitar tiga kali lipat dari nilai obligasi 300 juta USD. Empat bulan kemudian, prospek surat utang DMDT mendadak suram. Pasalnya, lembaga pemeringkat utang S&P Global Ratings tiba-tiba memangkas peringkat obligasi yang dijual DMDT menjadi CCC- atau turun 6 level dari sebelumnya BB-.

Kasus gagal bayar kupon obligasi Delta Merlin ini mengagetkan karena selama ini Duniatex belum pernah terlambat memenuhi kewajiban keuangannya. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memiliki eksposur kredit ke Duniatex Rp 5,5 triliun pada 2015 dan saat ini tersisa Rp 2,2 triliun. Adapun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) memiliki eksposur kredit ke Duniatex sebesar Rp 301 miliar.

Kabar terkait anak usaha Duniatex yang gagal membayar kewajibannya tampaknya menjadi tanda bahwa industri tekstil nasional tengah kelimpungan saat ini. Bagaimanapun, Duniatex adalah salah satu pelaku utama dalam industri tekstil di Indonesia.

Mendunia dari Solo

Duniatex didirikan oleh Sugeng Hartono pada 1974 di Surakarta, Jawa tengah dengan nama CV Duniatex Industri Tekstil. Pada awalnya, perusahaan bergerak dalam bisnis pencelupan, tekstil dan finishing dengan total 130 karyawan. Setelah malang melintang di industri pertekstilan, Sugeng pensiun pada 1996, dan digantikan oleh putranya, Sumitro sebagai orang nomor satu di Duniatex Grup. Di tangan Sumitro, usaha Duniatex kian berkembang.

Induk usaha yang memiliki kantor pusat di Karanganyar, Solo, Jawa Tengah tersebut saat ini sudah membawahi sedikitnya 18 perusahaan terbatas yang tersebar di beberapa lokasi dengan luas lahan mencapai 150 hektare.

Perusahaan Tekstil Terbesar Di Indonesia Mengalami Guncangan

Jumlah karyawan yang bekerja di Duniatex Grup semakin besar. Dari awalnya 130 karyawan, kini sudah mencapai lebih dari 40.000 karyawan. Produk yang dihasilkan juga tidak hanya kain mentah dan kain jadi saja, namun juga sudah merambah ke pemintalan benang, knitting, printing hingga denim.

Pasar Duniatex Grup tak hanya menyasar domestik saja, namun juga internasional. Saat ini, Duniatex mengklaim sudah melayani konsumen dari empat benua, seperti Asia, Eropa, Afrika dan Amerika.

Selain bergulat di industri pertekstilan, Duniatex di bawah kepemimpinan Sumitro juga mulai menggarap bisnis properti. Salah satunya adalah mendirikan Hartono Mall di Solo melalui PT Delta Merlin Dunia Properti, seperti dikutip dari Grid.

Duniatex kemudian mendirikan Hartono Mall ke-2 di Yogyakarta. Dibuka pada 20 November 2015, Hartono Mall Yogyakarta menjadi salah satu mal terbesar di Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan total tenant sebanyak 300 unit.

Selain mal, PT Delta Merlin Dunia Properti juga membangun beberapa hotel seperti The Alana Solo, Best Western Solo, dan pusat perbelanjaan Hartono Trade Center. Tak hanya itu, Duniatex juga mendirikan sebuah rumah sakit, yakni RS Indriati. Rumah sakit yang didirikan di atas lahan seluas 18.291 m2 ini berlokasi di desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Rumah sakit swasta ini ditargetkan menjadi sebuah rumah sakit pendidikan, terakreditasi nasional dan internasional.

Mengapa bisnis Duniatex jatuh?

Dari Katadata.com, Fitch Ratings menyebutkan, peringkat utang Delta Merlin kembali dipangkas dari B- menjadi CCC- alias masuk kategori junk bond. Dana kas Delta Merlin yang sebesar Rp 700 miliar per Maret 2019 diperkirakan tidak cukup untuk menghadapi pembayaran bunga, amortisasi, dan utang yang jatuh tempo pada kuartal III 2019 sebesar Rp 400 miliar-Rp 450 miliar.

Associate Director Fitch Ratings Singapura Bernard Kie, mengatakan seretnya kondisi likuiditas Delta Merlin disebabkan oleh kebutuhan modal kerja yang lebih tinggi, melambatnya penjualan, dan penyelesaian kontrak opsi valas dengan skema Out of The Money (OTM). Dalam kontrak OTM, harga opsi beli lebih tinggi dibandingkan dengan harga pasar aset yang menjadi jaminannya. Delta Merlin menerbitkan obligasi senilai US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun pada Maret 2019. Obligasi dolar dengan kupon 8,625% per tahun itu akan jatuh tempo pada 2024. Perusahaan harus membayar bunga obligasinya pada 21 September 2019. Namun, perusahaan tidak mampu menyisihkan dana ke dalam rekening pembayaran bunga. Kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban berikutnya terhadap obligasi tersebut pun terancam tak terpenuhi.

Menurut Fitch, kemampuan Delta Merlin untuk mencari pinjaman dari perbankan dan pasar modal pun berpotensi terhambat. Dokumentasi obligasi DMDT tidak termasuk klausul cross default yang menghubungkan kemampuan finansial perusahaan dengan kinerja perusahaan afiliasnya. Namun, Fitch yakin akses Delta Merlin ke bank dan pasar modal akan dibatasi karena tekanan terhadap kinerja satu perusahaan akan berdampak pada perusahaan yang beroperasi di bawah Duniatex Grup. Salah satu anak usaha Duniatex, yakni PT Dunia Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST) terlambat membayar kewajibannya dan harus melakukan restrukturisasi. Kondisi ini mempersulit upaya Delta Merlin untuk mencari pinjaman baru untuk menutup utangnya. Perusahaan juga kesulitan memenuhi kebutuhan modal kerja sehari-hari. Jika perusahaan memiliki kewajiban lain di luar obligasi dolarnya senilai lebih dari US$ 10 juta, hal itu bisa memicu klausul gagal bayar (default) terhadap obligasinya.

Tarif impor sebesar 25% yang dikenakan Amerika Serikat (AS) terhadap produk-produk Tiongkok menyebabkan produsen dari negara Tirai Bambu itu mengalihkan ekspor produknya ke negara-negara lain di Asia, termasuk Indonesia.

Beberapa perusahaan tekstil Indonesia yang menerbitkan obligasi dolar memiliki peringkat yang lebih baik dibandingkan Delta Merlin. PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) memiliki peringkat BB- dengan prospek stabil. Begitu pula dengan PT Pan Brothers Tbk (PBRX) yang memiliki peringkat B dengan prospek stabil.

 Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau Bank BRI Suprajarto mengatakan, perseroan telah menaikkan status kredit Duniatex Group menjadi level kolektabilitas 2 atau kredit dalam perhatian khusus. Kenaikan status kredit tersebut berkaitan adanya potensi gagal bayar Duniatex Group. Kendati statusnya naik, Suprajarto mengatakan, ia tak terlalu khawatir. Sebab, sampai Juni 2019 kemarin Duniatex Group masih membayar kewajiban utangnya kepada BRI. Selain itu, BRI juga telah menetapkan biaya pencadangan sebesar 20 persen dari eksposure kredit untuk memitigasi gagal bayar.

“Kami juga memegang jaminan dengan rasio 127 persen dari eksposur kredit. Jaminan tersebut juga masih marketable, sehingga kami juga tidak terlalu khawatir-khawatir amat ada dampak yang signifikan,” kata Suprajarto saat mengelar konferensi pers di Gedung BRI, Jakarta Selatan, Rabu 14 Agustus 2019. Adapun, menurut Suprajarto, total utang yang diberikan BRI kepada Duniatex Group mencapai angka Rp 1,8 triliun. Angka itu terbagi dalam utang cash loan senilai Rp 1,4 triliun dan non cash loan senilai Rp 0,4 triliun.

Sebelumnya, Duniatex Group dikabarkan tengah menghadapi persoalan keuangan. Hal ini terjadi karena keterlambatan pembayaran bunga dan utang pokok kredit anak usaha PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST) sebesar US$ 13,4 juta. Utang itu berasal dari sindikasi bank yang dipimpin HSBC dan BNP Paribas. Selain itu, Duniatex Group juga dikabarkan tengah kesulitan untuk membayar obligasi PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT) senilai US$ 300 juta. Apalagi, kupon pembayaran pertama bakal jatuh tempo pada September 2019.

Sementara itu, menanggapi isu miring gagal bayar utang, Duniatex Group memastikan bahwa seluruh utang bakal dibayar perusahaan. Perusahaan juga memastikan bahwa tak akan ada pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan meski ada isu gagal bayar. “Kami ingin meluruskan berita-berita terkait persoalan keuangan dihadapi Duniatex bahwasanya sampai saat ini perusahaan dan produksi masih berjalan seperti biasa tidak mengalami gangguan,” kata Manajer Humas Duniatex Group, Donalia S. Erlina di Jakarta.

Tips Sukses Membuka Usaha Konveksi

Tips Sukses Membuka Usaha Konveksi – Ingin memulai usaha kecil-kecilan dirumah untuk menambah pemasukan keluarga? Tak perlu bingung banyak sekali peluang usaha yang bisa Sahabat BahanKain coba mulai dari bisnis rumahan.  Meskipun hanya bisnis rumahan jika digeluti dengan serius bisa menghasilkan keuntungan yang menggiurkan. Hal yang terpenting dalam menentukan unit usaha apa yang akan digeluti adalah minat atau passion.

Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan internet menjadi sebuah keuntungan besar untuk pelaku usaha rumahan untuk memasarkan produk dan bersaing dengan usaha-usaha lainnya. Bermodal internet Sahabat bisa memsarkan produk dengan jangkauan sangat luas dengan biaya yang jauh lebih murah, seperti memanfaatkan marketplace, social media sebagai sarana promosi. slot online

Saat akan memulai bisnis desain tekstil banyak sekali daftar ‘must-have’ atau ‘must-know’ yang harus dipenuhi. Banyak desainer menyangka bahwa mereka harus mempunyai ratusan motif, kemampuan membaca pasar, skill menggunakan aneka program aplikasi, page facebook, akun twitter, website, lini produk dan lain-lain. https://www.mustangcontracting.com/

Semua skill, alat dan prestasi memang penting dan dapat membantu anda memperoleh banyak klien, namun jangan khawatir anda bisa memulai bisnis anda dengan cara yang lebih mudah, dengan memulai dari bisnis kecil namun perlahan tapi pasti sehingga anda bisa mengembangkan bisnis anda di bidang desain.

Tips Sukses Membuka Usaha Konveksi

Seorang desainer baru biasanya mengembangkan teknik pengulangan (seamless), mencari warna palet yang pas dan bekerja dengan penelitian tren kecil-kecilan. Mereka tidak akan mengambil tanggung jawab ratusan motif atau melakukan presentasi penelitian tren besar-besaran. Jika anda orang baru dalam bisnis ini, anda bisa memulai dengan cara-cara diatas untuk mendapat klien anda. memang pekerjaan tersebut tidak terdengan ‘wah’, namun itu merupakan cara terbaik untuk mendapatkan uang ekstra dan memulai jaringan anda dengan pelan tapi pasti.

Dengan kata lain anda tidak perlu menjadi desainer papan atas yang langsung merilis bisnis dan pagelaran fashion show yang sukses. Anda hanya perlu meningkatkan skill anda dulu dan mempelajari hal-hal baru yang akan membantu mengembangkan karya anda kelak.

Misalnya dengan memperkuat skill anda dalam teknik pengulangan, memang anda tidak bisa menguasai sebuah teknik dalam semalam. Anda harus terus mencoba dan belajar hingga akhirnya jika anda diberi kesempatan untuk memulai proyek yang lebih kompleks, anda akan dengan lebih mudah mengerjakannya karena anda sudah melalui setiap detil prosesnya.

Pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia. Pakaian dari hari-ke-hari mengalami perubahan tren dan juga fungsi. Hal ini menjadikan bisnis pakaian/konveksi masih menjadi bisnis yang tidak akan pernah mati. Meski bukan peluang yang besar, bisnis pakaian/konveksi nyatanya masih menjadi peluang usaha yang masih banyak dirintis oleh pengusaha pemula. Jika Anda ingin merintis bisnis konveksi dengan modal yang sedikit terbatas, maka Anda bisa memperhatikan beberapa tips berikut untuk memulai bisnis konveksi rumahan.

Persiapkan Modal

Setiap bisnis pasti membutuhkan modal, begitu juga bisnis konveksi. Sebenarnya modal bisnis konveksi tergantung dengan persiapan dan strategi Anda. Jika Anda ingin produksi langsung (ready stock) tentu Anda akan membutuhkan modal yang besar. Namun jika Anda ingin menerapkan pra-pemesanan (pre-order) modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Modal dalam membuat bisnis  konveksi biasanya digunakan untuk produksi dan juga promosi.

Tetapkan Supplier

Hal yang perlu diperhatikan dalam memulai bisnis konveksi adalah supplier. Supplier terdiri dari bahan konveksi, penjahit, percetakan, kemasan, dan juga label pakaian. Hal ini sebenarnya disesuaikan dengan budget dan strategi penjualan yang Anda ambil. Berikut beberapa tips dalam memilih supplier,

Carilah supplier yang dekat dengan lokasi bisnis Anda, untuk mengurangi beban produksi;

Supplier yang terlokalisasi dengan bisnis lain atau memiliki jasa dan produk dengan pasokan pendukung. Misalnya saja, supplier yang bisa menjahit sekaligus menyediakan bahan dan juga sablon;

Bekerjasama dengan supplier yang memiliki reputasi yang baik.

Jika Anda ingin memulai semuanya dari mulai menyediakan bahan hingga penjahitan, tentu Anda tetap membutuhkan pemasok seperti supplier alat jahit dan alat cetak.

Tentukan Jenis Produk

Tips Sukses Membuka Usaha Konveksi

Persiapan awal dalam bisnis konveksi adalah menentukan jenis produk yang Anda buat. Anda akan memproduksi pakaian untuk pria atau wanita, anak-anak atau orang dewasa, jenis kemeja atau kaos. Anda juga harus memerhatikan keperluan dari produk Anda. Apakah untuk keperluan formal, casual, perayaan, atau seragam.

Menentukan jenis produk juga akan menentukan posisi produk Anda di persaingan bisnis konveksi. Jenis produk juga dapat menentukan branding dan juga strategi pemasaran yang akan Anda lakukan.

Bangun Kepercayaan dan Branding Produk

Seperti bisnis lain, membuka bisnis konveksi juga memerlukan kepercayaan audiens. Kepercayaan dibangun agar reputasi bisnis dapat dikenal baik oleh audiens. Kepercayaan dapat dibangun dengan, membuat konten melalui media promosi seperti blog dan instagram. Bekerjasama dengan perusahaan lain atau media, serta memberikan pengetahuan produk dan juga bukti produk kepada audiens.

Selain membangun kepercayaan, branding juga harus dibangun. Branding dibangun dengan membuat logo, memaparkan visi usaha, dan juga desain konten yang sesuai dengan jenis produk yang akan dijual. Membangun branding berguna untuk meningkatkan kesadaran konsumen dengan produk Anda.

Siapkan Marketing Tools dan Strategy

Strategi pemasaran yang baik akan berpengaruh dengan bisnis konveksi Anda. Anda dapat memilih penjualan Business-to-business (B2B) dengan kata lain menjual produk Anda kepada institusi atau perusahaan atau penjualan Business-to-consumer  (B2C) yaitu penjualan kepada masyarakat umum. Dalam bisnis konveksi, B2B bisa berupa menjual seragam dan pakaian perayaan. Sedangkan, B2C Anda dapat menjual pakaian formal atau Casual.

Strategi pemasaran juga mencakup tools yang akan digunakan. Misalnya, Anda dapat menggunakan software e-commerce atau blog. Anda juga dapat menggunakan sosial media seperti instagram dan facebook dengan menggunggah konten dan foto produk Anda. Jika bisnis Anda sudah berkembang, Anda dapat mengandalkan Google Ads dan juga Google Analytics untuk memaksimalkan strategi pemasaran Anda.

Amati Tren Pasar

Kesalahan yang sering dilakukan seorang pebisnis konveksi adalah tidak bisa membaca tren pasar. membaca tren pasar terutama jika Anda berbisnis konveksi adalah hal wajib yang perlu dilakukan. karena pakaian dari tahun-ke-tahun pasti mengalami perubahan tren. Misalnya saja tren pada kaos, di tahun 2015-an banyak tren kaos bertuliskan arab, sedangkan di akhir 2017-an kaos bertuliskan jepang menjadi tren.

Membaca situasi pasar, berarti Anda mengetahui kemauan dan kebutuhan konsumen. Mengikuti tren juga harus diiringi dengan idealisme Anda agar produk Anda memiliki identitas dan dapat bertahan pada persaingan bisnis konveksi.

Manajemen Keuangan

Keuangan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah bisnis, termasuk bisnis konveksi rumahan. Keuangan harus selalu dikelola dengan baik dan benar dari awal perjalanan bisnis Anda. Dengan mengatur keuangan, Anda juga dapat menetapkan harga produk yang akan Anda jual.

Catatlah semua transaksi secara detail untuk bisa membuat laporan keuangan yang dibutuhkan. Biasakan untuk selalu melihat dan merapikan catatan keuangan tersebut secara teratur meskipun hal ini mungkin akan sangat memerlukan ketelitian dan waktu yang panjang.